BOCAH LANANG (Jurnal Puisi #2)
oleh Rahmad Kurniawan
Surabaya, 01 Mei 2016
Bulan telah berada diubun-ubun
Baru saja aku tertawa, lima menit lalu
Tapi saat ini aku merenung
Rasa tak adil muncul diwaktu yang tepat
Rasa sendiri dan sempit, semua dan semua
Dari bahagia hingga merana, sekejap.
Lelah aku dipermainkan tuhan tentang kematian
Apa yang berdetak bukan detak nyata
Tidak ada sistem yang bermakna ditubuh ini
Biarkan waktu yang menjawab,
Biarkan tawa kubuat-buat,
Mempermainkan rasa semena-mena
Lihatlah bocah lanang yang sendirian dijalan,
Menatap depan melihat hidupnya berantakan,
Melamun tanpa tahu arah untuk pulang.
Jika mimpi sudah kelam, jika impian sudah gelap
Raja gulita mana lagi yang berteman?
Semua gulita adalah sahabatnya, yang paling mengerti.
0 komentar