Cerpen Gila (CERPEN) by Rahmad Kurniawan - 3:15 AM © Art Unraveled Mata-mata melirikku sinis di pinggir jalan, banyak dari mereka yang takut, dan segelintir orang yang tidak peduli. Langkah kakiku menari di atas warna yang kubuat dari imajinasi tingkat tinggi. Aku sepenuhnya manusia, mereka belum sadar akan arti kebebasan. Biarkan aku bermain di duniaku sendiri. Aku ingin tertawa, menangis, bahagia, sedih, sendiri di bumiku yang paling indah, di imajinasiku yang meroket menembus angkasa, mengitari galaksi menembus fantasi. Aku tidak ingin bahagia karena mereka tertawa. Aku tidak ingin sedih karena mereka menangis. Aku tidak ingin diam karena mereka juga diam. Aku ingin bahagia, bukan karena mereka sedang tertawa, ini caraku menyetubuhi alam yang indah dan tak terduga. Aku ingin sedih karena aku merasa sedih, karena hatiku tertusuk seribu jarum kenyataan yang kubuat-buat sendiri, aku sedih karena memang aku merasa kotor, bukan karena memori-memori cinta yang konyol. Tidak ada masa lalu bagiku. Mereka akan menganggapku gila. Menganggapku sebagai orang aneh. Siapa peduli? Berjalan dan berlari di dunia penuh warna, di dunia penuh dengan hal-hal yang aku inginkan, di dunia sensasi yang datang tiba-tiba. Biarkan aku begini, biarkan aku berbeda, tinggalkan aku seperti ini, terimalah aku seperti ini. Seorang ibu menatapku dari jauh, di balik tembok rumahnya sendiri. Kerudung hitam, dan tetesan air matanya berkilau karena pantulan sinar matahari. Aku merasakan peperangan di rana auranya, seorang yang dulu pernah ku kenal. Siapa dia? Aku berjalan menjauh darinya, sesekali melihat ke belakang. Dia mengikutiku sambil terisak memanggil-manggil nama seorang yang sudah lama mati. “Roni… Roni…”, isaknya sambil tetap menyebutkan nama itu. Dia membuntutiku sepanjang jalan ini. Telingaku gatal, gendangku terbakar. Aku muak dengan nama itu, aku adalah roh baru yang lahir di dunia ini. Ini dunia milikku, jangan ganggu aku. Perutku terkoyak mual mendengarnya terisak, kakiku gatal ingin cepat-cepat lari menjauh dari ibu ini. Aku berhenti. Dia berhenti. Aku menatapnya, dia menatapku dengan matanya yang sekarang sudah lebam berwarna merah. Tiba-tiba, seorang pria berjenggot mengejar ke arah ibu-ibu itu. “Sudah, Bu…. Sudah… Biarkan… Relakan…”, kata pria itu. Bukan urusanku. Aku berbalik dan lanjut berjalan mengarah ke arah yang kuinginkan. Realitas seakan jauh dari duniaku, tapi aku tidak peduli. Mereka yang terlalu peduli akan menegurku dan mengingatkan orang-orang sepertiku, atau bahkan mengusirku seperti kucing yang sedang mencari makan. Setiap hari, aku selalu mendapatkan satu bungkus makanan dari orang-orang yang sama sekali tidak aku kenal. Mereka tersenyum, kumpulan orang-orang yang rela membagi nasinya untukku. Dan aku tidak pernah merasa kelaparan, bahkan aku tidak pernah sakit sejak aku lahir dari pelangi. Mereka yang arogan akan mendorongku ke tumpukkan sampah, dan berteriak-teriak di pinggir jalan dengan tulisan-tulisan tuntutan. Rombongan arogan selalu meludahiku, menendangku hingga mereka bahagia dan puas. Tapi aku bingung, untuk apa mereka memuja setan di depan gedung milik pemerintah dan mencaci ke udara? Aku lepas dari rantai-rantai yang mereka buat sendiri. Rantai yang melilit di tubuh mereka sendiri. Rantai yang membatasi jiwa seorang, membuatnya tidur pulas dengan segala keduniawian yang tidak abadi. Aku bebas, aku bahagia, biarkan dunia berputar kemanapun arah angkasa menentukan. Karena duniaku akan berputar melawan arus bumi yang kupijak, melawan besarnya daya angkasa. Aku berlari takkan berhenti hingga kaki ini hilang ditelan api. Angkasaku. Duniaku. Bumiku. Perasaanku. Hidupku. Panggil aku ‘Raja Warna’, karena aku penguasa tertinggi dari duniaku. Aku menentukan hidupku akan berawal atau berakhir. Tapi mereka yang bukan kaumku, selalu memanggilku: ‘Orang Gila’ Share Tweet Pin Share Tags : Cerpen Newer Post Older Post You May Also Like 0 komentar
0 komentar